Saat
Gurilla menguasai kampung-kampung di
tepi sungai Wallanae, terjadi pengungsian besar-besaran orang Soga dan
sekitarnya. Peristiwa itu berlangsung pada 1963. Perseteruan Militer antara RI
dan Laskar DI/TII mencapai puncaknya. Saat itu, Pabbangkung, gerombolan lain yang tidak RI dan tidak DI/TII juga
membuat kekacauan.
Masa
suram tak hanya berlangsung pada masa itu, sebelumnya, Belanda dan Jepang sudah
mengacaukan kampung-kampung yang berada di bawah kuasa Kedatuan Soppeng. Tuan
Petoro, berdasarkan ingatan sosial orang-orang tua di Wanua Barae memerintah
desa ini melalui sistem pemerintahan tak langsung.
Pada
1930-an hingga hengkangnya Belanda akibat serangan sporadis bala tentara
Jepang, kampung-kampung di sana dipimpin oleh To Pabbicara: Petta Tumpa. Sementara di kampung Soga dipimpin oleh Matoa
Kamo Kamba’.
Tahun 1945, perubahan terjadi tiba-tiba. Berita menyerahnya
Jepang sampai di telinga tentara-tentara Jepang yang bermarkas di
kampung-kampung ini. Di kampung-kampung ini, tersiar kabar beberapa tentara
membunuh dirinya sendiri, baik dengan cara menusukkan samurai di jantungnya,
menyayat lehernya sendiri, atau memotong lidah. Sejak saat itu, warga tak lagi
melakukan ritual penghormatan kepada matahari seperti dianjurkan tentara Nippon.
Kesunyian politik penjajahan seperti mereda. Informasi tentang lepasnya negeri
ini dari belenggu penjajahan sampai ke telinga warga dan para matoa membimbing
warga untuk membenahi kampung.
Namun, ‘ketenangan’ tak berlangsung lama. Hanya sekira setahun
berita datangnya tentara Belanda yang menamakan diri NICA sampai di kampung
ini. Beberapa warga menyebutnya APRA. Situasi keriuhan politik Nampak lagi.
Saat itu, himbauan Presiden Soekarno untuk meminta pemuda menghimpun barisan
perlawanan terhadap NICA terdengar. Pemuda terlatih secara militer didikan Tentara
Nippon tampil sebagai laskar pejuang. Laskar-laskar inilah yang kemudian
berafiliasi pada Qahhar Mudzakkar sebagai pimpinan militer untuk Sulawesi pada
1960an.
Arus pengungsian terjadi. Orang-orang pindah ke kampung Pacongkang,
Lamuru, Koppe, Timusung (Alinge), dan Takkalalla.
Dalam
sistem pemerintahan Islam yang dibangun oleh Qahhar Mudzakkar, posisi ulama (Kali’ atau Mu’ti) memang sangat penting. DDI yang saat itu berkembang pesat
khususnya sejak berdirinya DDI di Pare-Pare menjadi penopang utama bagi
penerapan syariat Islam oleh Qahhar Mudzakkar di wilayah pedalaman Sulawesi.
Berakhirnya perjuangan Qahhar Mudzakkar, khususnya di Soga menandai
babak baru penataan kampung. Muhammad Saleh, kepala desa versi pemerintah
dibantu oleh anggota militer (tentara dan polisi) serta para to matoa kampung menata tata letak
kampung seperti letak jalan, letak rumah, letak mesjid, letak sekolah, letak
lapangan, sistem pengairan, kebun, dan sebagainya.
Di kampung Coppeng-Coppeng, seorang mantan anggota pasukan
khusus Gurilla yang disebut MOMOC,
Ustadz Abu (lebih dikenal sebagai Jabir) memilih tinggal di Coppeng-Coppeng dan
melanjutkan kegiatan mengajar sebagaimana ia lakukan sebelumnya. Di sana, di
bawah rumah panggung salah seorang warga (H. Baderu) ia membuka sekolah dibantu
oleh Haji Hibbu, salah seorang matoa di Coppeng-Coppeng. Jabir tak lagi
mengenakan pakaian hitam-hitam, menanggalkan senjata, dan melepas topi baret
merahnya sebagai layaknya seorang perwira MOMOC. Beberapa warga Coppeng-Coppeng
seperti Haji Baderu, La Baja’, dan La Pallu turut membantu keduanya mengelola
sekolah darurat ini.
Penataan kampung terus berlangsung. Masuknya Pembina dari
kemiliteran dan kepolisian menambah semarak aktifitas ini. Di salah satu sumur
(bujung) umum di Coppeng-Coppeng
(depan rumah kepala dusun Tonrong’e, Jamil) terdapat keterangan bahwa sumur itu
dibangun pada 23-3-1969 dengan dua tanda bintang yang menjadi lambang militer.
Sumur itu sendiri sudah ada jauh sebelumnya. Hanya dibuatkan bangunan yang
terbuat lebih permanen dan terlindung dengan pemisahan antara ruang permandian
laki-laki dan wanita.
Begitu besarnya partisipasi warga kampung membangun jalan,
akhirnya pada tahun 1972, mobil pertama bisa sampai di desa ini. Mobil itu
adalah jenis Hartop milik bupati Soppeng saat itu, Haji Andi Made Alie. sejak
saat itu, kampung Soga menjadi desa yang lebih terbuka dan mudah diakses oleh
pihak luar. Demikian pula sebaliknya, orang-orang Soga yang masih mengandalkan
tembakau sebagai sumber pendapatan berupa uang semakin meningkat memproduksi ico.
Saat itu, jalur distribusi dan distributor ico adalah ke Takkalalla yang dibawa
oleh Syamsuddin (menantu kepala lingkungan Soga, Abdul Azis saat itu; orang tua
Abdul Azis sendiri, La Mampo, adalah petani tembakau yang membawa [mappateke] ico-nya ke Tupabbiring—Barru), ke Pare-Pare dan Suppa dibawa oleh
Mading, dan seorang pedagang besar dari Toddangkalung dusun Tonrong’e, Haji
Palerei yang mempekerjakan banyak pekerja dan pembeli terbesar daun ico dari petani-petani di kampung Soga
dan sekitarnya membawa ico-nya ke
Makassar dan Sulawesi Tenggara.
Begitu besarnya usaha Haji Palerei, ia
bisa memproduksi ico hingga seribu timpo tembakau dalam 10 hari dengan
jumlah pegawai mencapai 20an orang. Bukan itu saja, Haji Palerei adalah
pedagang inovatif. Dialah yang memulai mencampur ico dengan saus gula merah dan membakarnya di dalam bambu (timpo) pada 1970. Sebelumnya, ico,
hanyalah gulungan tembakau kering.
Perkembangan
ekonomi Soga semakin pesat saat pada 1977 pengerasan jalan oleh warga dan militer
dilakukan. Namun, tak lama setelah itu, di akhir 1970-an atau awal 1980-an
pamor tembakau Bugis menurun.
Memasuki 1972, terjadi pergantian kepala lingkungan Soga.
Abdul Azis (meninggal 1985) digantikan oleh Abdul Wahid yang menjabat kepala
lingkungan hingga tahun 1980. Pada tahun itu, pemerintah Soppeng mengganti kata
‘lingkungan’ menjadi ‘kampung’. Tak lama berselang, camat Marioriwawo menunjuk
Budirman Azis—putra Abdul Azis sebagai kepala kampung Soga. Pria kelahiran 19
September 1957 baru berusia 23 tahun saat itu. Pendidikannya pun baru setingkat
Tsanawiyah. Nanti pada 1981 ia mengikuti ujian persamaan Tsanawiyah dan pada
1984 mengikuti ujian persamaan tingkat Aliyah ia menuntaskan pendidikan
menengahnya.
Ia menikah pada 1978 dengan putri Andi Beddu (1933 – ). Di
awal kepemimpinannya, sebagai kepala kampung hingga tahun 1985 ia tak
memperoleh gaji atau honor sama sekali. Saat itu, kepala kampung lebih sebagai
jabatan sosial ketimbang jabatan pemerintahan.
Jadi, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia tentu
bergantung pada hasil pertanian. Seperti petani pada umumnya, makanan pokok
utama adalah jagung dan ia menanamnya pada Nopember dan memeliharanya selama 4
– 5 bulan serta memanennya di awal April. Selanjutnya ia juga menanam kacang
hijau (juga sebagai makanan pokok—peco’
bue) pada bulan selanjutnya hingga Juli. Dari sinilah ia memenuhi kebutuhan
pokok keluarganya.
Memasuki tahun 1981, dinas pertanian, dalam hal ini PTP XXIII
masuk ke Soga dengan membawa pengetahuan baru yang disampaikan kepada petani
Soga, tanaman kapas. Menurut Agung Prabowo—peneliti dari Active Society
Institue (AcSI), anggota Komunitas Ininnawa—yang pernah meneliti di desa Soga
pada akhir Desember 2010, masuknya kapas melalui pintu program Intensifikasi
Kapas Rakyat (IKR). Sebuah program yang untuk mengembangkan pertanian
berorientasi ekspor oleh pemerintah Orde Baru.
Saat itu, kurang lebih 200 hektar lahan pertanian disulap
menjadi lahan perkebunan kapas berdasarkan perjanjian antara pihak PTP XXIII
dengan petani Soga. Isi perjanjian itu meliputi kewajiban PTP XXIII untuk
membiayai ongkos kerja, penyediaan bibit, pupuk dan pestisida, perlengkapan
penyemprotan, dan upah tenaga penyemprotannya, serta pemasaran hasil kapas.
Pada panen pertama, hasil kapas ini membawa penghasilan yang
relatif besar bagi petani dibanding dengan tanaman tembakau. Namun, program
pemerintah ini tak bertahan lama. Di tahun 1984 atau menjelang panen ketiga,
tiba-tiba biji kapas terserang hama heliotis
yang memakan inti biji kapas hingga habis (Prabowo, 2011).
Karena kegagalan ini, warga menebang dan membakar seluruh
tanamannya dan petani Soga merana pada tahun-tahun berikutnya. Pada masa inilah
gelombang migrasi orang Soga mulai terjadi. Mereka keluar Soga (massompe’) untuk mencari rezeki (massappa dalle’). Beberapa memilih ke
Sulawesi Tenggara mengikuti arus migrasi sebelumnya di masa kejayaan tembakau,
sebagian ke Malaysia bekerja sebagai buruh kelapa sawit, dan sebagiannya lagi
ke Kalimantan.
Tak lama berselang, masuk tanaman kakao pada 1985. Baru
sedikit orang menanamnya. Setelah panen pada 1989 dan memperoleh harga kakao
yang baik, orang-orangpun mulai turut menanam secara besar-besaran dan masih
bertahan hingga sekarang walaupun harganya semakin menurun dan kualitasnya
semakin buruk sejak sepuluh tahun terakhir.
Pada 2005, Kampung Soga berdiri sendiri sebagai desa
dan lepas dari induknya, desa Barae. Kepala desa pertama adalah Budirman
Azis[].
alinge dulunya ana nama pabbicara Ta pA alinge
BalasHapus