SOGA memiliki sejarah panjang pendidikan. Sebelum
sekolah formal dikenal sudah ada sekolah rakyat beroperasi di mesjid (langkara’) maupun di rumah penduduk. Sekolah
Islam beroperasi seiring berkembangnya ajaran Islam oleh Anre Gurutta KH Ambo Dalle sejak 1930-an. Beliau mendirikan Darud
Da’wah wal Irsyad (DDI). Di distrik Mario Rilau, KH Arsyad Lannu (pendiri
Pondok Pesantren Al Irsyad DDI ranting Pattojo kecamatan Liliriaja tahun 1966)
membantu KH Daud Ismail, pimpinan DDI cabang Soppeng di wilayah ini.
Di masa Pemerintahan Islam yang
dibangun Qahhar Mudzakkar (1957 – 1965), posisi ulama (Kali’ atau Mu’ti) sangat
penting. DDI yang saat itu berkembang pesat khususnya sejak berdirinya DDI di
Pare-Pare menjadi penopang utama penerapan syariat Islam oleh Qahhar Mudzakkar
di (pegunungan) Sulawesi.
Anre
Gurutta Aji Ambo Dalle sendiri diculik oleh laskar Qahhar
Mudzakkar untuk membantu mengajar agama bagi penduduk dan Gurilla. Pada suatu waktu, ia pernah berujar “Kini mereka telah menculik saya. Di dalam
hutan, kami sama sekali tidak punya peluang untuk kembali ke kota. Maka, dari
pada menganggur percuma, pikir saya, lebih baik melanjutkan misi pendidikan
islam yang kami cita-citakan sejak kecil. Pengajian kami lakukan kepada anggota
DI/TII dan keluarganya di hutan (Nasruddin Anshoriy, 2009).”
Seperti KH Arsyad Lannu, walaupun tidak
bergabung dengan Negara Islam, tetap memilih (bahkan diminta oleh pemerintahan
resmi Darul Islam) mengajar di kampung-kampung di Marioriwawo dan sekitarnya.
Jadi, saat masa konflik pemerintah RI dengan pemerintah Qahhar mudzakkar, langkara’ selalu ramai oleh aktifitas
pengajaran agama Islam.
Di luar kedatangan ulama KH Arsyad Lannu,
beberapa anggota MOMOC Ansharullah (pasukan khusus di kemiliteran Tentara Islam
Indonesia) seperti Jabir (kelak membangun sekolah rakyat di lingkungan
Coppeng-Coppeng) turut mengajar.
Saat perjuangan Qahhar benar-benar
padam pada 1966, penduduk mulai berdatangan. Kedatangan secara besar-besaran
berlangsung 3 Maret 1966 dan menjadi tanda era kebangkitan kembali warga desa.
Berakhirnya perjuangan Qahhar Mudzakkar
menandai babak baru penataan kampung. Muhammad Saleh, kepala desa versi
pemerintah dibantu oleh anggota militer (tentara dan polisi) serta para to matoa kampung menata tata letak
kampung seperti letak jalan, letak rumah, letak mesjid, letak sekolah, letak
lapangan, sistem pengairan, kebun, dan sebagainya.
Di
Coppeng-Coppeng, mantan anggota pasukan khusus Gurilla yang disebut MOMOC, Ustadz Abu (lebih dikenal sebagai
Jabir) memilih tinggal di Coppeng-Coppeng. Ia melanjutkan kegiatan belajar-mengajar
di rumah H. Baderu. Ia membuka kelas belajar dan dibantu Haji Hibbu, salah
seorang matoa di Coppeng-Coppeng. Jabir tak lagi mengenakan pakaian
hitam-hitam, menanggalkan senjata, dan melepas topi baret merahnya sebagai
layaknya seorang perwira MOMOC. Beberapa warga Coppeng-Coppeng seperti Haji
Baderu, La Baja’, dan La Pallu turut membantu keduanya mengelola sekolah
darurat ini.
Tapi baik As-Adiah dan DDI tak berbeda
jauh. Keduanya tampil sebagai pembawa risalah Islam. Jauh setelahnya, untuk
mengenang jasa-jasa Haji Hibbu yang melanjutkan kegiatan belajar-mengajar di
Coppeng-Coppeng dan jasa-jasa sosial lainnya, anaknya kemudian berinisiatif
bersama-sama warga mendirikan mesjid yang kemudian diberi nama Muhibbuddin di
tanah yang memang sudah diwakafkan oleh Haji Hibbu.
Penataan kampung terus berlangsung.
Masuknya Pembina dari kemiliteran dan kepolisian menambah semarak aktifitas
ini. Setelah kampung tertata dan penduduk terhimpun rapi pengerasan jalan mulai
dilakukan. Budaya situlung-tulung (saling
membantu sesama) dan semangat yang didasarkan pada prinsip orang Soga massedi (bersatu) membuat pekerjaan
lebih mudah dilakukan. Setiap warga yang terlibat dibebankan untuk bertanggung
jawab mengeraskan jalan sepanjang sekira 10 – 20 meter. Banyak sekali orang
yang terlibat, lebih-lebih keterlibatan unsur TNI saat itu.
Begitu jalan selesai, akses lebih
terbuka, mulailah orang mengenal sekolah formal. Pengajar dari kota datang
mengajar. Sekolah Inpres dan Madrasah berdiri dan berkembang hingga sekarang.
Kini, sekolah pra pendidikan dasar juga berdiri, misalnya Taman Kanak-Kanak.
Dusun Soga sebelum menjadi desa mandiri mempunyai 2
saranan pendidikan formal: SDN 152 Bellalao dan SDN 224 Pallawa. Juga terdapat
2 Madrasah Ibtidaiyah Swata (MIS) yaitu MIS DDI Bellalao dan MIS DDI
Coppeng-coppeng.
Pada 2002 SDN 224 Pallawa disatukan dengan SDN152
Bellalao, dan memakai nama SDN 224 Pallawa. Pada tahun yang sama sekolah
tersebut mendapat bantuan rehabilitasi total dari Bank Dunia melaluai program
Basic Education Project (BEP). Lokasi yang digunakan adalah bekas SDN 152
Bellalao. Adapun bekas gedung SDN 224 Pallawa menjadi tempat pendirian TK Hati
Mulia Soga (yang kemudian berbagi lokasi
dengan knator desa Soga sejak tahun 2004). Sementara MIS DDI Bellalao bubar
jalan karena ketiadaan guru pasca guru terakhir yang mengajar pension. Selain
TK hati mulia diatas, di coppeng-coppeng terdapat juga TK Al-Hidayah dan di
susun pallawa TK sementara dalam rintisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar