Minggu, 29 April 2012

PENDIDIKAN BAGI ORANG SOGA


SOGA memiliki sejarah panjang pendidikan. Sebelum sekolah formal dikenal sudah ada sekolah rakyat beroperasi di mesjid (langkara’)  maupun di rumah penduduk. Sekolah Islam beroperasi seiring berkembangnya ajaran Islam oleh Anre Gurutta KH Ambo Dalle sejak 1930-an. Beliau mendirikan Darud Da’wah wal Irsyad (DDI). Di distrik Mario Rilau, KH Arsyad Lannu (pendiri Pondok Pesantren Al Irsyad DDI ranting Pattojo kecamatan Liliriaja tahun 1966) membantu KH Daud Ismail, pimpinan DDI cabang Soppeng di wilayah ini.
Di masa Pemerintahan Islam yang dibangun Qahhar Mudzakkar (1957 – 1965), posisi ulama (Kali’ atau Mu’ti) sangat penting. DDI yang saat itu berkembang pesat khususnya sejak berdirinya DDI di Pare-Pare menjadi penopang utama penerapan syariat Islam oleh Qahhar Mudzakkar di (pegunungan) Sulawesi.
Anre Gurutta Aji Ambo Dalle sendiri diculik oleh laskar Qahhar Mudzakkar untuk membantu mengajar agama bagi penduduk dan Gurilla. Pada suatu waktu, ia pernah berujar “Kini mereka telah menculik saya. Di dalam hutan, kami sama sekali tidak punya peluang untuk kembali ke kota. Maka, dari pada menganggur percuma, pikir saya, lebih baik melanjutkan misi pendidikan islam yang kami cita-citakan sejak kecil. Pengajian kami lakukan kepada anggota DI/TII dan keluarganya di hutan (Nasruddin Anshoriy, 2009).”
Beberapa daerah yang juga menerima dan menyebarkan ajaran Islam melalui DDI adalah KH Ahmad Yusuf (Pimpinan DDI Sidenreng), KH Junaid (Pimpinan DDI Bone), KH Marzuki (Pimpinan DDI Sinjai dan lain-lain. Mereka beserta ulama-ulama muda lainnya masuk ke desa-desa dan mengajar agama di sana baik secara terang-terangan menyebut diri berafiliasi dengan Darul Islam (Negara Islam Qahhar Mudzakkar) ataupun tidak.
Seperti KH Arsyad Lannu, walaupun tidak bergabung dengan Negara Islam, tetap memilih (bahkan diminta oleh pemerintahan resmi Darul Islam) mengajar di kampung-kampung di Marioriwawo dan sekitarnya. Jadi, saat masa konflik pemerintah RI dengan pemerintah Qahhar mudzakkar, langkara’ selalu ramai oleh aktifitas pengajaran agama Islam.   
Di luar kedatangan ulama KH Arsyad Lannu, beberapa anggota MOMOC Ansharullah (pasukan khusus di kemiliteran Tentara Islam Indonesia) seperti Jabir (kelak membangun sekolah rakyat di lingkungan Coppeng-Coppeng) turut mengajar.
Saat perjuangan Qahhar benar-benar padam pada 1966, penduduk mulai berdatangan. Kedatangan secara besar-besaran berlangsung 3 Maret 1966 dan menjadi tanda era kebangkitan kembali warga desa.
Berakhirnya perjuangan Qahhar Mudzakkar menandai babak baru penataan kampung. Muhammad Saleh, kepala desa versi pemerintah dibantu oleh anggota militer (tentara dan polisi) serta para to matoa kampung menata tata letak kampung seperti letak jalan, letak rumah, letak mesjid, letak sekolah, letak lapangan, sistem pengairan, kebun, dan sebagainya.

Di Coppeng-Coppeng, mantan anggota pasukan khusus Gurilla yang disebut MOMOC, Ustadz Abu (lebih dikenal sebagai Jabir) memilih tinggal di Coppeng-Coppeng. Ia melanjutkan kegiatan belajar-mengajar di rumah H. Baderu. Ia membuka kelas belajar dan dibantu Haji Hibbu, salah seorang matoa di Coppeng-Coppeng. Jabir tak lagi mengenakan pakaian hitam-hitam, menanggalkan senjata, dan melepas topi baret merahnya sebagai layaknya seorang perwira MOMOC. Beberapa warga Coppeng-Coppeng seperti Haji Baderu, La Baja’, dan La Pallu turut membantu keduanya mengelola sekolah darurat ini.
Sepertinya, melihat asalnya dari Pattojo, Jabir ada kaitannya dengan DDI ranting Pattojo pimpinan KH Arsyad Lannu. Sementara Haji Hibbu yang juga tinggal di Sengkang lebih dikenal sebagai orang As-Adiah—merujuk pada Anre Gurutta Aji As’ad yang mendirikan Al Madrasah al Arabiyah al-Islamiyah (MAI) pada akhir masa kolonial di Sengkang yang kemudian berdasarkan kesepakatan para ulama sepeninggal AG H. As’ad MAI diganti menjadi As’adiyah.
Tapi baik As-Adiah dan DDI tak berbeda jauh. Keduanya tampil sebagai pembawa risalah Islam. Jauh setelahnya, untuk mengenang jasa-jasa Haji Hibbu yang melanjutkan kegiatan belajar-mengajar di Coppeng-Coppeng dan jasa-jasa sosial lainnya, anaknya kemudian berinisiatif bersama-sama warga mendirikan mesjid yang kemudian diberi nama Muhibbuddin di tanah yang memang sudah diwakafkan oleh Haji Hibbu.
Penataan kampung terus berlangsung. Masuknya Pembina dari kemiliteran dan kepolisian menambah semarak aktifitas ini. Setelah kampung tertata dan penduduk terhimpun rapi pengerasan jalan mulai dilakukan. Budaya situlung-tulung (saling membantu sesama) dan semangat yang didasarkan pada prinsip orang Soga massedi (bersatu) membuat pekerjaan lebih mudah dilakukan. Setiap warga yang terlibat dibebankan untuk bertanggung jawab mengeraskan jalan sepanjang sekira 10 – 20 meter. Banyak sekali orang yang terlibat, lebih-lebih keterlibatan unsur TNI saat itu.
Begitu jalan selesai, akses lebih terbuka, mulailah orang mengenal sekolah formal. Pengajar dari kota datang mengajar. Sekolah Inpres dan Madrasah berdiri dan berkembang hingga sekarang. Kini, sekolah pra pendidikan dasar juga berdiri, misalnya Taman Kanak-Kanak.
Dusun Soga sebelum menjadi desa mandiri mempunyai 2 saranan pendidikan formal: SDN 152 Bellalao dan SDN 224 Pallawa. Juga terdapat 2 Madrasah Ibtidaiyah Swata (MIS) yaitu MIS DDI Bellalao dan MIS DDI Coppeng-coppeng.
Pada 2002 SDN 224 Pallawa disatukan dengan SDN152 Bellalao, dan memakai nama SDN 224 Pallawa. Pada tahun yang sama sekolah tersebut mendapat bantuan rehabilitasi total dari Bank Dunia melaluai program Basic Education Project (BEP). Lokasi yang digunakan adalah bekas SDN 152 Bellalao. Adapun bekas gedung SDN 224 Pallawa menjadi tempat pendirian TK Hati Mulia Soga  (yang kemudian berbagi lokasi dengan knator desa Soga sejak tahun 2004). Sementara MIS DDI Bellalao bubar jalan karena ketiadaan guru pasca guru terakhir yang mengajar pension. Selain TK hati mulia diatas, di coppeng-coppeng terdapat juga TK Al-Hidayah dan di susun pallawa TK sementara dalam rintisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar