Minggu, 29 April 2012

MEMBANGUN EKONOMI DESA SOGA: Sebuah Konsep


Watak ekonomi di Indonesia saat ini tergambar pada dua hal. Pertama, watak ekonomi yang mendukung penuh usaha ekonomi atau industri dan modal raksasa. Kedua sistem ekonomi yang tidak adil. Terutama untuk, hampir semua, produk-produk pertanian sangat tidak adil terhadap petani. Tidak adil untuk pelaku-pelaku usaha sangat kecil skala rumah tangga di pedesaan. Ketiga sistem ekonomi yang eksploitatif, terutama bagi petani!
Jadi yang menjadi prioritas utama yang didukung adalah industri atau kegiatan-kegiatan ekonomi skala besar, investasi besar, padat modal. Kegiatan ekonomi yang hanya bisa dilakukan oleh pengusaha yang punya modal. Petani dan orang desa tidak bisa melakukannya.
Ada juga dogma yang berjangkit di masyarakat bahwa hanya mereka yang berbakat bisnis yang bisa. Itu juga kemudian yang berkembang sehingga petani orang desa tidak bisa dipercaya dan dianggap tidak mampu untuk menjalankan atau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan ekonomi, usaha-usaha produktif untuk meningkatkan derajat ekonomi mereka diluar budidaya. Tapi benarkah demikian?
Untuk menangkal watak ‘jahat’ sistem ekonomi yang ada sekarang serta efek buruknya, diperlukan sistem ekonomi alternative, ekonomi yang berbeda.
Istilah ekonomi desa digunakan dalam konteks ekonomi kerakyatan yang di dalamnya mencakup dimensi ekonomi perkotaan, pedagang-pedagang dan usaha-usaha kecil di perkotaan, usaha-usaha kecil marjinal yang justeru lebih keras tantangannya berhadapan dengan sistem ekonomi pasar modal/uang raksasa. namun dalam konteks tulisan ini fokusnya pada desa dan petani.
Sebenarnya teorinya sederhana, yakni: kembalikan semua penguasaan dan pengelolaan sumberdaya-sumberdaya ekonomi ke warga desa & petani.
Bukan ekonomi pasar atau kewirahusahaan individualis dimana sumberdaya ekonomi hanya dikuasai segelintir pengusaha, perusahaan dan pemilik modal. Asas dan prinsipnya persis sama dengan koperasi. Berasas dan berprinsip kekeluargaan. Tujuan utamanya adalah mensejahterakan rakyat.
Perbedaan Ekonomi desa dengan Ekonomi Konvensional
CIRI
Ekonomi Desa
Ekonomi Konvensional
Siapa yang punya?
Sekumpulan orang (anggota)
Pemilik modal, investor
Asas Pendiriannya?
Kekeluargaan/kebersamaan
Individualisme
Kenapa didirikan?
Karena ada kesamaan kebutuhan dan kepentingan ekonomi
Berdasarkan kepentingan pemilik modal
Yang mendirikan?
Didirikan dan dijalankan bersama-sama
Individu-individu atau investor yang memiliki modal dan kepentingan ekonomi
Untuk apa didirikan?
Untuk menigkatkan  pendapatan anggotanya
Untuk keuntungan perusahaan/pemilik modal yang sebesar-besarnya.
Untungnya untuk siapa?

Pelayanan dan keuntungan untuk anggota
Pelayanan untuk pasar, keuntungan untuk pemilik modal

Kerja sama menjadi modal utama sistem ekonomi desa. Kerja sama antar para anggota berasas kekeluargaan dan kebersamaan. Dengan asas tersebut keuntungan dan resiko usaha dinikmati dan ditanggung bersama. Dengan asas itu juga skala usaha bisa diperbesar sementara biaya-biaya dan resiko bisa ditekan. Misalnya pemasaran bersama yang dikelola oleh kelompok. Dengan pemasaran bersama akses ke pasar jauh lebih besar sementara biaya-biaya bisa jauh lebih kecil per unitnya. Selain itu, pasar usaha berbasis ekonomi desa ruangnya cukup besar atau bisa dikatakan nyaris sudah pasti ada, kerena usaha berbasis ekonomi desa anggotanya selain pemilik usaha juga sekaligus sebagai pelanggan, pembeli produk atau pengguna layanan.
Karena kebutuhan dan kepentingan ekonomi yang sama sebagai dasar usaha berbasis ekonomi desa; maka tujuan utamanya adalah memberi manfaat ekonomi dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggotanya. Bagaimana menambah nilai tambah produk anggotanya, kalau anggotanya petani, bagaimana menambah nilai tambah produk pertanian yang dihasilkan oleh anggotanya, dengan mengusahakan komoditas-komoditas pertanian sampai ke produk akhir, tidak hanya menjualnya sebagai bahan baku. Sebagai contoh pisang, manfaat ekonomi akan dinikmati jauh lebih besar kalau diolah sampai menjadi produk, misalnya keripik pisang, ketimbang menjualnya hanya dalam bentuk pisang mentah. Dengan mengusahakan sampai ke produk akhir, juga perlahan-lahan akan menggeser industri-industri dan kegiatan-kegiatan ekonomi produktif dari kota ke desa, namun tentu saja tetap dalam prinsip usaha berbasis ekonomi desa.
Namun tentu saja usaha berbasis ekonomi desa tetap harus dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi dimana terdapat pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya. Namun pada prinsipnya anggota tetap menjadi prioritas utama. Memenuhi kebutuhan anggota, meningkatkan kesejahteraan anggota  [Karno B Batiran].
Jika ini yang terbaik bagi desa, maka Desa Soga akan menuju kesana.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar