Minggu, 29 April 2012

PERTANIAN SOGA: Banjir Komoditas dan Racun Kimia 1


PERTANIAN SOGA: Banjir Komoditas dan Racun Kimia
Melihat kronologisnya, mari kita lihat beberapa komoditas penting di Soga, mulai tahun 1960an hingga kini.

JAGUNG PANGAN
TANAMAN ini sudah ada sebelum kemerdekaan. Saat itu, kisaran 80% masyarakat Soga menanamnya. Ada dua jenis jagung, jagung asio untuk pangan (jagung puluk: untuk nasi dan tepung) dan untuk bibit (memisahkan butiran jagung, merendamnya setengah hari, lalu menanamnya).
 Pola tanamnya adalah bulan November, Desember, April, Mei. Di antara keempat bulan tersebut bulan April dan Mei orang Soga menanam jagung dengan sistem tumpang sari, di mana posisi jagung berada ditengah sedangkan dipinggir lahan ditanami dengan kacang hijau dan kacang panjang. Dari proses penanaman sampai waktu panen masyarakat tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida karena pada saat itu tanah masih subur dan belum ada pengaruh bahan-bahan kimia.
Pekerjaan pertanian saat itu masih kental dengan budaya makkaleleng yang dilakukan setiap minggunya. Bagi warga yang tidak ikut, maka akan kena denda Rp. 50 atau disisakan bagiannya untuk dikerjakan kemudian.
Pada saat panen, bagi yang membantu dapat upah (atau bagi hasil). Pemilik akan memperoleh 2 ikat jagung 2 dan pemberi bantuan mendapatkan 1 ikat. Istilah ini disebut ibilang tali. Setiap ikat berjumlah 100 tongkol sampai 150 tongkol tergantung kebaikan pemilik lahan. Persoalan konsumsi menjadi tanggung jawab pemilik lahan dengan menyediakan makanan berupa kue dan teh manis atau kopi.
Seiring dengan gampangnya akses jalan untuk keluar masuk desa sekitar tahun 70-an. Dengan sendirinya mempengaruhi arus informasi pertanian dan proses produksi yang berdampak pada posisi jagung.
Dampak tersebut dirasakan dengan mudahnya masyarakat desa soga mencari informasi mengenai tempat ma’sangki. Dengan tujuan untuk mendapatkan beras sebagai penganti jagung. Seiring berjalannya waktu pada tahun 1983 ada sekitaran 20% masyarakat desa Soga. Dari tonronge 5%, belallao 5% dan pallawa 10% pergi sangki (sangki istilah orang yang membantu untuk panen padi disawah). Lokasi tempat untuk ma’sangki masyarakat desa Soga berada di kecamatan lain di Soppeng, pangkep, Bone. 
TEMBAKAU
Tanaman tembakau juga telah ada sebelum kemerdekaan. Tanaman ini perawatannya membutuhkan kesabaran dan keahlian khusus, mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan, panen dan pengeringan tembakau untuk siap jual.
Dalam proses pembibitan petani tembakau menyimpan beberapa tanaman untuk dipersiapkan menjadi bibit. Caranya dengan tidak memotong daun tanaman tembakau lalu disemai di bedengan yang dibuat khusus. 
Bibit yang dipersiapkan akan dipakai sendiri atau dijual kepada petani lain.
Dalam proses perawatan tembakau, daun pucuk pertama dipotong setelah tumbuh tiga bulan dan tinggi tanaman mencapai 75 cm – 100 cm. Setiap minggunya tanaman disemprot penghalau hama. Kemudian, setiap daun yang sudah besar muncul pucuk-pucuk baru yang harus dipotong setiap minggu. Tujuannya agar daun yang diharapkan melebar.
Tembakau mudah diserang hama ulat dan kalanrei dan bila curah hujan tinggi bisa membuat akar busuk.
Pada tahap panen dan pengeringan. Petani tembakau memotong batang dimana dalam setiap batang terdapat delapan lembar daun lebar yang layak dipanen. Tahapan-tahapan proses panen, pengeringan, hingga pencacahan petani tembakau biasanya meminta bantuan kepada keluarga dekat, sepupu dan tetangga.
Tembakau ini menciptakan kesejahteraan bagi orang Soga selama sekian tahun. Hal itu disebabkan industri ico masih marak di Cabbenge. Setelah industry rokok Jawa masuk dan hama semakin sulit ditangani, industry rokok Bugispun merosot tajam dan orang Soga mulai meninggalkan tembakau. Tak lama setelah itu, di awal 1980-an pemerintah memperkenalkan tanaman kapas kepada orang Soga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar