PERTANIAN SOGA:
Banjir Komoditas dan Racun Kimia
Melihat
kronologisnya, mari kita lihat beberapa komoditas penting di Soga, mulai tahun
1960an hingga kini.
JAGUNG PANGAN
Pola tanamnya adalah bulan November,
Desember, April, Mei. Di antara keempat bulan tersebut bulan April dan Mei orang
Soga menanam jagung dengan sistem tumpang sari, di mana posisi jagung berada
ditengah sedangkan dipinggir lahan ditanami dengan kacang hijau dan kacang
panjang. Dari proses penanaman sampai waktu panen masyarakat tidak menggunakan
pupuk kimia dan pestisida karena pada saat itu tanah masih subur dan belum ada
pengaruh bahan-bahan kimia.
Pekerjaan
pertanian saat itu masih kental dengan budaya makkaleleng yang dilakukan setiap minggunya. Bagi warga yang tidak ikut, maka akan kena denda Rp. 50 atau
disisakan bagiannya untuk dikerjakan kemudian.
Pada
saat panen, bagi yang membantu dapat upah (atau bagi hasil). Pemilik akan
memperoleh 2 ikat jagung 2 dan pemberi bantuan mendapatkan 1 ikat. Istilah ini
disebut ibilang tali. Setiap ikat
berjumlah 100 tongkol sampai 150 tongkol tergantung kebaikan pemilik lahan.
Persoalan konsumsi menjadi tanggung jawab pemilik lahan dengan menyediakan
makanan berupa kue dan teh manis atau kopi.
Seiring
dengan gampangnya akses jalan untuk keluar masuk desa sekitar tahun 70-an.
Dengan sendirinya mempengaruhi arus informasi pertanian dan proses produksi
yang berdampak pada posisi jagung.
Dampak
tersebut dirasakan dengan mudahnya masyarakat desa soga mencari informasi
mengenai tempat ma’sangki. Dengan tujuan
untuk mendapatkan beras sebagai penganti jagung. Seiring berjalannya waktu pada
tahun 1983 ada sekitaran 20% masyarakat desa Soga. Dari tonronge 5%, belallao
5% dan pallawa 10% pergi sangki (sangki
istilah orang yang membantu untuk panen padi disawah). Lokasi tempat untuk ma’sangki masyarakat desa Soga berada di
kecamatan lain di Soppeng, pangkep, Bone.
TEMBAKAU
Dalam
proses pembibitan petani tembakau menyimpan beberapa tanaman untuk dipersiapkan
menjadi bibit. Caranya dengan tidak memotong daun tanaman tembakau lalu disemai
di bedengan yang dibuat khusus.
Pada
tahap panen dan pengeringan. Petani tembakau memotong batang dimana dalam
setiap batang terdapat delapan lembar daun lebar yang layak dipanen.
Tahapan-tahapan proses panen, pengeringan, hingga pencacahan petani tembakau
biasanya meminta bantuan kepada keluarga dekat, sepupu dan tetangga.
Bibit
yang dipersiapkan akan dipakai sendiri atau dijual kepada petani lain.
Dalam
proses perawatan tembakau, daun pucuk pertama dipotong setelah tumbuh tiga
bulan dan tinggi tanaman mencapai 75 cm – 100 cm. Setiap minggunya tanaman disemprot
penghalau hama. Kemudian, setiap daun yang sudah besar muncul pucuk-pucuk baru
yang harus dipotong setiap minggu. Tujuannya agar daun yang diharapkan melebar.
Tembakau
mudah diserang hama ulat dan kalanrei
dan bila curah hujan tinggi bisa membuat akar busuk.
Tembakau
ini menciptakan kesejahteraan bagi orang Soga selama sekian tahun. Hal itu
disebabkan industri ico masih marak
di Cabbenge. Setelah industry rokok Jawa masuk dan hama semakin sulit
ditangani, industry rokok Bugispun merosot tajam dan orang Soga mulai
meninggalkan tembakau. Tak lama setelah itu, di awal 1980-an pemerintah
memperkenalkan tanaman kapas kepada orang Soga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar