KAPAS (sejak tahun 1981-1984)
Masuknya
kapas ke desa Soga merupakan hasil kerja sama antara pihak PTPN 13 dengan Dinas
Perkebunan Soppeng. Untuk mempercepat proses penyebaran informasi ke masyarakat,
PTPN membentuk petugas wilayah yang berfungsi sebagai petugas lapangan. Mereka
akan melakukan kontrol terhadap mandor disetiap desa. Satu petugas akan
mencakup wilayah kerja di tiga kecamatan. Untuk tingkat desa petugas lapangan
PTPN menunjuk seorang mandor sebagai kontrol dalam hal pemantauan. Memastikan
tanaman kapas ditanam dan penagih kredit ke petani saat panen.
Dinas
perkebunan membentuk kelompok petani kapas dimana semua ketua kelompok adalah
kepala dusun. Soga yang saat itu masih bagian dari desa Barae diketuai oleh
Budirman Azis.
Bibit
kapas, pupuk kimia dan pestisida diperoleh dari PTPN 13 Bulukumba. Dalam
melakukan penyaluran PTPN memberi kredit berupa pupuk kimia dan pestisida ke petani.
Tujuan mempermudah proses penanaman kapas dan mempercepat proses panen. Saat
panen kredit yang diambil petani kapas harus dibayar kepada pihak PTPN melalui
mandor ke kepala wilayah. Sedangkan kepala wilayah membawa hasil itu pihak PTPN
13 BULUKUMBA. Contoh pembayaran kredit yang dilakukan oleh petani kapas, setiap
satu hektar tanaman kapas menghasilkan 1 ½ ton, di mana setiap kilo berharga Rp
2500. Dari harga ini, petani mendapatkan Rp 2000, sedangkan pihak PTPN sebagai
pemberi bibit, pupuk dan pestisida mendapatkan 500 sebagai ganti kredit (bibit,
pupuk dan pestisida).
Pada
akhir tahun 1984 petani desa soga berhenti tanam kapas. Penyebabnya serangan penyakit
dan hama helotis, dan curah hujan tinggi. Kejayaan kapas hanya berkisar tiga
tahun.
KAKAO (mulai tahun 1984)
Tahun
1989, ketika para pelopor coklat mulai panen dan masyarakat melihat hasilnya
bagus dan cocok untuk ditanam di desa Soga, mulailah petani merubah fungsi
lahanya yang semula untuk jagung, tembakau dan kapas berangsur-angsur beralih
ke kakao.
Penanaman
cacao yang besar-besaran berefek pada
terkikisnya pola hubungan sosial, seperti makkaleleng.
Perawatan kakao menuntut petani berkonsentrasi penuh untuk mengelola lahannya
sendiri.
Pada
saat orang Soga mulai menikmati hasil dari kakao, ada pola hubungan baru
terbentuk, membantu orang berarti mengupahnya dengan uang. Lagi pula, panen
serupa jagung bisa mengundang tetangga untuk bakar jagung dan makan bersama,
sebaliknya kakao tak bisa dinikmati hingga sulit mengundang tetangga datang ke
rumah untuk ‘makan bersama biji kakao’.
Seiring
berjalannya waktu, usia pohon kakao semakin tua. Pada 1991 tanaman mulai rusak
walaupun dampaknya belum terlalu mempengaruhi jumlah panen. Barulah memasuki
1995, kerusakan kakao dan kegagalan panen mulai terasa dan semakin menjadi-jadi
di tahun 2000an hingga sekarang.
Tak
ada satupun jalan keluar yang mumpuni. Hanya sistem ‘sambung samping’ yang
sedikit berbuah hasil walau tetap tak memberi jaminan. Masalahnya, tanah sudah
semakin kehilangan unsur hara karena terus menerus dibubuhi bahan kimia tanpa
masa jeda.
Kini,
tanaman Nilam mulai menggoda petani untuk menanamnya. Apakah ini sebuah
harapan?
JAGUNG KUNING UNTUK PAKAN (sekarang)
Dampak
dari rusaknya tanaman kakao membuat petani berusaha mencari jalan keluar.
Beberapa petani menebang kakao yang sudah tua dan mati. Mereka menggantinya
dengan jagung kuning.
Di
desa Soga ada dua titik penanaman jagung kuning yaitu dusun Tonronge: 40% dan
dusun Pallawa: 10%. Perhitungan ini berdasarkan jumlah petani yang tanam jagung
kuning di kedua dusun tersebut.
Melihat
situasi kakao yang parah, pemerintah kabupaten bekerja sama dengan pengusaha
memberi mandat kepada dinas perkebunan untuk melakukan sosialisasi jagung
kuning. Setelah sosialisasi dibentuklah koperasi penyedia bibit, pupuk dan
pestisida jagung kuning. Pemerintah melalui penyuluh dinas perkebunan bertindak
menjaga arus distribusi bibit, pupuk, pestisida lancar ke petani.
Kini
jagung mulai ramai, namun belum bisa diprediksi apakah ini akan bertahan atau
lagi-lagi mengalami kemandekan dan frustrasi. Masalah utamanya adalah petani
tetap saja tergantung pada pihak luar. Bibit, Pupuk, Pestisida yang menjadi
unsure penting pertanian selalu saja didatangkan dari luar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar