Minggu, 29 April 2012

PERTANIAN SOGA: Banjir Komoditas dan Racun Kimia 2


KAPAS (sejak tahun 1981-1984)
Masuknya kapas ke desa Soga merupakan hasil kerja sama antara pihak PTPN 13 dengan Dinas Perkebunan Soppeng. Untuk mempercepat proses penyebaran informasi ke masyarakat, PTPN membentuk petugas wilayah yang berfungsi sebagai petugas lapangan. Mereka akan melakukan kontrol terhadap mandor disetiap desa. Satu petugas akan mencakup wilayah kerja di tiga kecamatan. Untuk tingkat desa petugas lapangan PTPN menunjuk seorang mandor sebagai kontrol dalam hal pemantauan. Memastikan tanaman kapas ditanam dan penagih kredit ke petani saat panen.
Dinas perkebunan membentuk kelompok petani kapas dimana semua ketua kelompok adalah kepala dusun. Soga yang saat itu masih bagian dari desa Barae diketuai oleh Budirman Azis.
Bibit kapas, pupuk kimia dan pestisida diperoleh dari PTPN 13 Bulukumba. Dalam melakukan penyaluran PTPN memberi kredit berupa pupuk kimia dan pestisida ke petani. Tujuan mempermudah proses penanaman kapas dan mempercepat proses panen. Saat panen kredit yang diambil petani kapas harus dibayar kepada pihak PTPN melalui mandor ke kepala wilayah. Sedangkan kepala wilayah membawa hasil itu pihak PTPN 13 BULUKUMBA. Contoh pembayaran kredit yang dilakukan oleh petani kapas, setiap satu hektar tanaman kapas menghasilkan 1 ½ ton, di mana setiap kilo berharga Rp 2500. Dari harga ini, petani mendapatkan Rp 2000, sedangkan pihak PTPN sebagai pemberi bibit, pupuk dan pestisida mendapatkan 500 sebagai ganti kredit (bibit, pupuk dan pestisida).
Pada akhir tahun 1984 petani desa soga berhenti tanam kapas. Penyebabnya serangan penyakit dan hama helotis, dan curah hujan tinggi. Kejayaan kapas hanya berkisar tiga tahun.

KAKAO (mulai tahun 1984)
1984, bibit dari Cilellang (Luwu) dibawa oleh Haji Hibbu, ia seorang penjual bambu yang biasa membawa bambu dari desa soga menuju Sengkang. Bersama sahabatnya Haji Laedi sebanyak 400 tanaman coklat ditanam di Coppeng-Coppeng.
Tahun 1989, ketika para pelopor coklat mulai panen dan masyarakat melihat hasilnya bagus dan cocok untuk ditanam di desa Soga, mulailah petani merubah fungsi lahanya yang semula untuk jagung, tembakau dan kapas berangsur-angsur beralih ke kakao. 
Penanaman cacao yang besar-besaran berefek pada terkikisnya pola hubungan sosial, seperti makkaleleng. Perawatan kakao menuntut petani berkonsentrasi penuh untuk mengelola lahannya sendiri.
Pada saat orang Soga mulai menikmati hasil dari kakao, ada pola hubungan baru terbentuk, membantu orang berarti mengupahnya dengan uang. Lagi pula, panen serupa jagung bisa mengundang tetangga untuk bakar jagung dan makan bersama, sebaliknya kakao tak bisa dinikmati hingga sulit mengundang tetangga datang ke rumah untuk ‘makan bersama biji kakao’.
Seiring berjalannya waktu, usia pohon kakao semakin tua. Pada 1991 tanaman mulai rusak walaupun dampaknya belum terlalu mempengaruhi jumlah panen. Barulah memasuki 1995, kerusakan kakao dan kegagalan panen mulai terasa dan semakin menjadi-jadi di tahun 2000an hingga sekarang.
Tak ada satupun jalan keluar yang mumpuni. Hanya sistem ‘sambung samping’ yang sedikit berbuah hasil walau tetap tak memberi jaminan. Masalahnya, tanah sudah semakin kehilangan unsur hara karena terus menerus dibubuhi bahan kimia tanpa masa jeda.
Kini, tanaman Nilam mulai menggoda petani untuk menanamnya. Apakah ini sebuah harapan?
JAGUNG KUNING UNTUK PAKAN (sekarang)
Dampak dari rusaknya tanaman kakao membuat petani berusaha mencari jalan keluar. Beberapa petani menebang kakao yang sudah tua dan mati. Mereka menggantinya dengan jagung kuning.
Di desa Soga ada dua titik penanaman jagung kuning yaitu dusun Tonronge: 40% dan dusun Pallawa: 10%. Perhitungan ini berdasarkan jumlah petani yang tanam jagung kuning di kedua dusun tersebut.
Melihat situasi kakao yang parah, pemerintah kabupaten bekerja sama dengan pengusaha memberi mandat kepada dinas perkebunan untuk melakukan sosialisasi jagung kuning. Setelah sosialisasi dibentuklah koperasi penyedia bibit, pupuk dan pestisida jagung kuning. Pemerintah melalui penyuluh dinas perkebunan bertindak menjaga arus distribusi bibit, pupuk, pestisida lancar ke petani.
Kini jagung mulai ramai, namun belum bisa diprediksi apakah ini akan bertahan atau lagi-lagi mengalami kemandekan dan frustrasi. Masalah utamanya adalah petani tetap saja tergantung pada pihak luar. Bibit, Pupuk, Pestisida yang menjadi unsure penting pertanian selalu saja didatangkan dari luar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar